in Kesehatan

Inilah Pernyataan Menkes “PB IDI Saya Bunuh Pelan-Pelan Kalau Ancam Mogok Lagi”

Akhirnya saya mendapatkan rekaman suara Menkes yang ada kalimat “bunuh pelan-pelan kalau ancam mogok lagi”. Jika menyimak nada bicara, intonasi suara dan gaya bicara Menkes pada saat itu, bisa dipastikan siapa pun yang hadir menganggapnya sebagai candaan. Itu terbukti dengan riuh ketawa audiens yang saat itu hadir, tentunya mayoritas dokter.

Dan ternyata secara redaksional, kalimat seloroh itu ditujukan kepada PB IDI, bukan dokter secara umum. Dan secara spesifik, Menkes melontarkan gurauan itu untuk menanggapi kabar ancaman pengurus besar IDI yang pernah mengancam mau mogok karena tidak setuju SJSN.

Pada saat itu, Menkes sebagai salah satu keynote speaker pada Urun Rembug Nasional IDI dalam rangka Hari Bakti Dokter Indonesia 2013. Dengan tema “Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Yang Berkeadilan di Negeri Berdaulat” forum Urun Rembug Nasional IDI dilaksanakan Senin, 26 Agustus 2012 di JIE Kemayoran Jakarta.

Setelah mengucapkan salam kepada hadirin, Menkes tidak langsung membacakan naskah pidatonya, melainkan mengajak dialog dengan peserta forum. Menkes mengawalinya dengan bercerita bagimana beliau bertanya kepada stafnya yang asli orang jawa sehingga bisa menjelaskan arti kata dan makna “urun rembug”. Suasananya cair dan dialogis. Peserta yang hadir pun merespon dengan tertawa.

“Semalam saya tanya, siapa orang jawa di sekitar saya. urun rembug itu artinya apa? Ternyata tidak ada. Baru tadi pagi, ketemu prof budi. Prof, orang jawa beneran kan? Urun rembug itu artinya apa? Dia bilang, urun itu sharing. Jadi kita mau sharing aja. Terus Rembug itu apa? Berembug itu berdiskusi.ohh gitu. Itu sama dengan musyawarah untuk mufakat nggak? Nggak! dia bilang. Karena tidak perlu ada mufakat. Alhamdulillah (hadirin tertawa riuh). Berarti tidak perlu ada mufakat toh? Yg penting sharing. Kemudian kita omongkan”. Terdengar sayup sisa-sisa hadirin yang tertawa.

Kemudian Menkes menyampaikan terima kasih dan apresiasi terhadap forum yang digagas PB IDI ini. Dan secara khusus Menkes mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Dokter di seluruh Nusantara ini yang selama ini telah berbakti dan melayani rakyat dengan sepenuh hati. Hadirin pun menyambut dengan tepuk tangan.

Sampai disini, Menkes pun belum membacakan naskah pidato. Secara dialogis dan naratif, Menkes tanpa teks bercerita tentang suasana diskusi cukup ramai antara Menkes dan pengurus PB IDI membahas wajib kerja sarjana saat sebelum acara dimulai.

“Bu, ini mestinya Menteri itukan lagi wajib kerja sarjana. Yee, enak saja. (hadirin tertawa). Kan pengurus besar IDI kan yang melanggar itu melanggar HAM. Dibilang, itu dulu bu. Lain bengkulu lain semarang, lain dulu lain sekarang. Sekarang dokter-dokter muda ini dokter dokter pejuang, jadi boleh lagi. Benar nggak nih? (hadirin tepuk tangan). Ini urun rembug. Bener nih? Nah, ada yang bilang nggak. Nah kalian urun rembug dulu”

Kemudian Menkes sedikit mengomentari terlalu luasnya bahasan yang harus disampaikan Menkes tentang Kebijakan Kemenkes dalam Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Yang Berkeadilan di Negeri Berdaulat. Melihat rundown, Menkes akan banyak bicara tentang SJSN.

“Waktunya berapa menit? Kalau 10 menit saya pulang sekarang (hadirin tertawa riuh). 30 menit? Kalau begitu langsung saja.. tapi kalau ketemu teman-teman, saya tidak mau baca sambutan. Saya ingin bicara dari hati ke hati. Mungkin itulah maknanya urun rembug bahwa kita ngomong dari hati ke hati (hadirin tepuk tangan).

Kemudian Menkes memulai membaca naskah sambutannya hingga pada bahasan tentang Jaminan Kesehatan Nasional yang mulai 1 Januari 2014. Dan disela-sela membaca, Menkes selinggi dengan komentar untuk mencairkan suasana.

Pada menit 16:07, Menkes menjelaskan diluar teks pidato mengenai besaran iuran,

“Besar iuran belum ditentukan oleh Presiden. Insya Alloh dalam waktu dekat, presiden akan mengeluarkan peraturannya berapa. Karena saudara-saudara dari ini, saya buka memang sekarang apa yang kami usulkan ya, sebab pengurus besar IDI pernah mengancam mau mogok toh, bilang mau mogok karena tidak setuju SJSN”

Menkes kembali menjelaskan tentang JKN dengan membaca teks sambutan maupun diluar naskah. Hingga sampailah komentar Menkes diluar naskah sambutan untuk mencairkan suasana.

“Nah, jadi, inilah yang akan mulai 1 Januari 2014, dan silahkan Saudara urun rembug tentang pandangan saudara. Asal jangan saudara ancam mogok, kalau kamu ancam mogok, saya bunuh kau pelan-pelan satu per satu. (dan disambut tawa riuh). Seluruh PB IDI saya bunuh pelan-pelan kalau ancam mogok lagi. Ya yang bener aja, masa kalian sama dengan buruh. Saya kira engga lah ya”.

Menkes  pun melanjutkan tugasnya sebagabuni Keynote Speaker dengan gaya berpidato dan berdialog dengan gaya yang komunikatif dan tidak membosankan hingga menit 48.18. Diakhiri tepuk tangan riuh peserta forum Urun Rembug Nasional  IDI 2013.

Leave a Reply

12 Comments

  1. kita memang harus melakukan cek dan ricek lagi ya eyang sebelum ikut2an termakan dg pemberitaan yang ada. dan benar kata rasulullah, dalam bercanda pun ada etikanya. kejadian ini semoga bisa menjadi pelajaran juga buat bu menkes utk lebih hati2 dalam memilih kaliamat candanya

  2. Ya ini,menkes dgn kualitas bobrok,mulut comboren..
    Mbok ya ngomong,warga miskin akan gratis u/ biaya pengobatan,drpd ngomong dan bercanda gak penting..
    Ini termsk penulis,yg capek2 anlisa panjang lebar u/ inget2 mana kata yg tepat,kata mengancam dan sebagianya..
    Becanda dan analisanya mkn bs lbh diganti dgn warga miskin gratis u/ operasi,check up,CTscan,test MRI gratis..
    Dan ini bener2 samah,selevel menteri gak ada sense terhdppp rakyat,termsk jongosnya sekalipun.
    Kl lg berpolemik dengan media baru ngoceh,coba kl ada praktek penunjukkan lgsg program kjs tanpa tender apa jg keras mengonggong?

    • klo gitu mungkin samen lebih cocok jadi Menkes. klo memang pny ilmu pengetahuan yg lebih dalam coba samen kasi masukan ke bu Menkes gimana caranya bikin sistem pembiayaan yg berkeadilan dimana semua orang bisa gratis.

      jawabannya pasti gak ada.
      karena di seluruh dunia pun gak ada 1 negara pun yg bisa menggratiskan penduduknya utk biaya berobat.
      bahkan di negara sekaya Swis atau negara2 Skandinavia.
      yg ada itu dibayar oleh pajak individual/ korporat, artinya tetep ada orang yg bayar sesuai dgn kemampuan.

      itu yang dirumuskan oleh Kemenkes dalam SJSN-meniru sistem sosialis di negara maju, jauh sebelum posisi Menkes tsb berganti ke Ibu Nafsiah.

      sy pribadi berpikir bnyk kebijakan beliau yg bagus walaupun kontroversial. karena beliau emg bukan cari popularitas tapi lebih menekankan dimana semua pihak berhak mendapat akses kesehatan yang merata (termasuk pekerja seks, dimana diprotes oleh kalangan yg ‘katanya’ relijius).

      jadi kalo samen memang merasa lebih bijaksana, dan memberi solusi maka silahkan beri masukan kpd Kemenkes gimana caranya spy rakyat (terutama yg tidak mampu) bisa mendapat semua pengobatan gratis tsb.

      • Tapi di negara maju, gaji dokter umum di hargai pak!
        Usulku PNSkan saja semua dokter umum utk program bpjs ini. 1 dokter hy menanggung maks 1000jiwa. nanti diatur pembagian gajinya berdsrkan wilayah.